Tampilkan postingan dengan label Garut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garut. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

Kunjungan Kerja DPP PAGUYUBAN KI SUNDA

kunjungan kerja DPP,,, salah satu anggota korban kebakaran di GARUT,,

nyuhunkeun pi du'a na ,,,,,, mudah'an tiasa dibantos ieu sepuh ku urang sadayana,,,margi anjeuna kenging musibah kahuruan bumina,,,,amin

nyuhunkeun pi du'a na ,,,,,, mudah'an sing enggal damang ieu wargi urang sdayana ,,, margi anjeuna kenging musibah tabrakan,,,,amin

PHOTO ALBUM BHAKTI SOSIAL





Photo Bersama


Selasa, 04 September 2012

Pengobatan Alternatif Ki Amuk Massa

Gurah Mata : Adalah pengobatan untuk melancarkan peredaran darah dan mengeluarkan kotoran di sekitar mata. Efektif untuk Katarak, Min/ Plus, Rabun Jauh, Rabun Dekat, Mata Tua, dan lain sebagainya.

Gurah Hidung : Adalah pengobatan untuk mengeluarkan kotoran/ racun, Nikotin dan Tar. Serta mengeluarkan Toksin-toksin yang tidak berguna dari saluran resparasi. Memperkuar paru-paru, menghilangkan sinus, polip pilek menahun memperbagus suara, migrain, dan lain sebagainya.

Refleksi : Menstimulasi saraf lemah/ kendor kembali keposisi semula, serta merangsang saraf untuk aktif kembali. (lumpuh, strooke, dsb)

Bekam : adalah pengobatan dengan mengeluarkan racun dalam darah dengan menggunakan api. Efektif untuk asam urat, kolestrol dan lain sebagainya.

(Bonus Transfer Energi Positif dan Herbal)

Informasi pengobatan Ki Amuk Massa (Mulya Jaya)
Kp. Kiarapandak Ds. Cangkuang Kec. Leles Kab Garut 44152
Telp/ Hp : 081 312 689 914

Rabu, 15 Agustus 2012

BHAKTI SOSIAL


Kegiatan Sosial Anggota PAKIS Distrik Garut bekerjasama dengan MART Racing Team di Kecamatan Samarang Kabupaten Garut

Kamis, 05 Juli 2012

Cigawiran

Seni tradisional Cigawiran termasuk kelompok cabang seni Karawitan Sekar, bukan seni petunjukan .Seni tradisional ini hampir sama dengan Beluk, Cianjuran Sumedang dan Kawih (Karawitan Sekar).
Tembang Cigawiran lahir di Desa Cigawiran, Kecamatan Selaawi.
 
Sumber: http://pariwisata.garutkab.go.id

Hadro

HADRO adalah jenis kesenian perpaduan antara budaya Parahyangan dengan budaya Parsi atau Arab. Seni ini diperkenalkan oleh Kyai Haji Sura dan Kyai Haji Achmad Sayuti yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru Samarang Kabupaten Garut sekitar tahun 1917. kehadirannya tentu saja mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Bojong. Maka tidak heran apabila perkembangannya sungguh sangat menggembirakan.

Jenis kesenian ini memiliki ciri tertentu dalam gaya dan lagunya. Gaya/laga adalah gerak geriknya yang diambil dari jurus-jurus pencak silat yang menggambarkan kepatriotan.

Lagu / liriknya diambil dari sajak pujangga Islam Syech Jafar Al Banjanji. Alat pengiringnya terdiri dari : Rebana, Tilingtit, Kempring, Kompeang, Bangsing, Tarompet dan Bajidor.

Sedangkan para pemainnya mengenakan busana berupa baju dan celana putih yang dihiasi dengan selendang merah melilit di dada.

Seni HADRO menggambarkan kepatriotan para pejuang muslim dalam menentang kaum penjajah. Masyarakat Desa Bojong sebenarnya boleh berbangga hati karena pada saat ini seni tersebut berada pada kondisi yang masih mampu bertahan dengan kemandiriannya.

HADRO, bagaimanapun tetap HADRO, satu jenis kesenian tradisional kebanggaan masyarakat Desa Bojong Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Kita bersyukur atas kebesaran Tuhan Pencipta, yang dengan segala kemaha kuasaan-Nya telah menurunkan salah satu khasanah budaya di Kabupaten Garut tercinta.

Seni tradisional HADRO yang tumbuh dan berkembang di Desa Bojong senantiasa tampil dalam setiap kesempatan, baik dalam upacara hari besar nasional atau acara-acara penting di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, bahkan di tingkat Propinsi, disamping itu ditampilkan pula dalam acara perkawinan, khitanan dan acara keagamaan lainnya.

Sumber: http://pariwisata.garutkab.go.id

Bangklung

Kesenian Bangklung merupakan perpaduan dua buah kesenian tradisional, yakni Kesenian Terebang dan Kesenian Angklung Badud. Biasanya kesenian ini dipentaskan pada :
1. Khitanan Anak
Yang sebelum anak akan disunat biasanya terlebih dahulu diarak dengan iringan musik / kesenian Bangklung yang dikenal dengan istilah Ngaleunggeuh.

2. Panenan Padi
Jenis kesenian/tabuh-tabuhan ini dapat digunakan didalam acara kegiatan mengangkut padi untuk disimpan di lumbung, yang kita kenal dengan istilah Ampih Pare.

3. Syukuran
Kesenian ini dapat dipakai didalam acara kegiatan setelah acara hajatan selesai, dengan iringan musik / kesenian bersifat arak-arakan, istilah ini dapat kita kenal Upacara Miceun Runtah.

4. Hiburan
Kesenian ini dapat pula dipentaskan pada upacara penyambutan para tamu.

Adapun alat kesenian Bangklung yang digunakan terdiri dari beberapa waditra-waditra (alat-alat﴿, yakni :

1.Lima buah Terebang :
Terebang Anak, Terebang Kempring, Terebang Tempas, Terebang Bangsing dan Terebang Indung yang berfungsi sebagai Goong.

2.Sembilan buah Angklung :
-Dua buah Angklung Ambruk
-Dua buah Angklung Tempas/Pancer
-Empat buah Angklung Roel

3.Lima buah Terebang :
Terebang Anak, Terebang Kempring, Terebang Tempas, Terebang Bangsing dan Terebang Indung yang berfungsi sebagai Goong.

4.Sembilan buah Angklung :
-Dua buah Angklung Ambruk
-Dua buah Angklung Tempas/Pancer
-Empat buah Angklung Roel
-Sebuah Angklung Engklok

5.Tiga pasang Batok Kelapa.
6.Dua buah Keprak terbuat dari Bambu.

Adapun jenis lagu-lagu yang dibawakan, antara lain :
1.Lagu Anjrog;
2.Lagu Kacang Buncis;
3.Lagu Ya Maula;
4.Lagu Soleang.
Disamping lagu-lagu tersebut, diselingi dengan penampilan Beluk.

Jumlah pemain Bangklung seluruhnya 27 orang, yang masing-masing membawa alat : Terebang, Angklung, Beluk (Vokal﴿, Terompet, Keprak dan seorang Bodor.

Kesenian Bangklung merupakan hasil prakarsa Bapak Rukasah selaku Kepala Seksi Bidang Kesenian Depdikbud Kabupaten Garut, telah menetapkan perpaduan jenis kesenian Terebang dan Angklung pada tanggal 12 Desember 1968 di Desa Cisero Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut.

Sumber: http://pariwisata.garutkab.go.id

Badeng

Kesenian tradisional BADENG diciptakan pada tahun 1800 yaitu di jaman Para Wali, kesenian ini mula-mulanya diciptakan oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama ARFAEN NURSAEN yang berasal dari daerah Banten yang kemudian terus menetap di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, beliau dikenal masyarakat disana dengan sebutan LURAH ACOK.

Lurah Acok berfikir didalam hatinya bagaimana caranya supaya ajaran agama Islam dapat menyebar luas di masyarakat waktu itu agama Islam sangat asing sekali. Pada suatu saat dia pergi menuju suatu perkampungan di daerah Malangbong dan di tengah jalan beliau menemukan sesuatu benda yang bentuknya panjang bulat terbuat dari bambu serat dengan tidak sadar maka benda itu dibawanya ke rumah dan bambu tersebut dibuat suatu alat yangt bisa mengeluarkan bunyi. Pada saat itu juga ARFAEN mengumpulkan para santri dan mereka disuruhnya membuat alat-alat lainnya yang terbuat dari bambu-bambu yang sudah tua untuk memadukan bunyinya dengan alat yang Arfaen buat tadi dan kemudian bambu-bambu tersebut disusun dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara yang nyaring dan dicobanyalah semua alat-alat itu ditabuh/dibunyikan maka terdengarlah irama musik, kalau masa kini yang sangat enak didengar ditambah dengan nyanyian-nyanyian yang beriramakan Sunda Buhun dan Arab / Solawatan.

Dari mulai saat itulah Lurah Acok dan Para Santrinya setiap hari, setiap minggu, setiap bulan berkeliling mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, umaro dan tokoh-tokoh santri untuk berkumpul bermusyawarah sambil memasukan ajaran-ajaran agama Islam dengan menabuh seperangkat alat-alat yang dibuatnya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan lagu-lagu sunda buhun yang isi syairnya mengajak kepada masyarakat banyak untuk masuk agama Islam.

Hampir semua penduduk yang ada di Desa Sanding , di kampung-kampung, di kota-kota sekitar daerah Malangbong bahkan dimana-mana di daerah Kabupaten Garut pada umumnya yang pernah didatangi oleh Lurah Acok menganut ajaran agama Islam.

Maka sejak saat itulah Lurah Acok memberikan nama Kesenian Badeng yang artinya ?Badeng? adalah dari kata Bahadrang yaitu musyawarah berunding dengan suatu alat kesenian. Badeng adalah suatu jenis kesenian sebagai media untuk menyebarkan agama Islam pada waktu itu.

Sampai sekarang kesenian ini masih ada dan dipergunakan sebagai alat hiburan, untuk menyambut tamu-tamu besar, perayaan, Mauludan, khitanan, hajat dan lain sebagainya, hanya saja para pemainnya sudah tua-tua rata-rata berumur 90 tahunan.

Adapun alat-alat Kesenian Badeng tersebut terdiri dari :
-2 (dua) buah Angklung Kecil bernama Roel yang artinya bahwa dua pimpinan pada waktu itu antara kaum ulama dengan umaro (pemerintah) harus bersatu, alat ini dipegang oleh seorang dalang.
-2 (dua) buah dogdog lonjor ujungnya simpay lima yang artinya menandakan bahwa didunia ini ada siang ada malam dan laki-laki dengan perempuan, alat ini dipegang oleh dua orang simpay lima berarti rukun Islam.
-7 (tujuh) buah angklung agak besar terdiri dari : angklung indung, angklung kenclung dan angklung kecer disesuaikan dengan nama-nama hari, alat ini dipegang oleh 4 orang.
 
Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Dodombaan

Atraksi seni yang menggunakan tetabuhan seperangkat kendang pencak silat dengan beberapa orang pendukungnya. Satu atau dua orang melakukan ibing pencak silat, juga terdapat delapan orang yang mengusung dua buah patung domba dari kayu yang bisa ditunggangi anak-anak dan dewasa.

Kesenian ini lahir di Desa Panembong Kec. Bayongbong dan dipimpin oleh Bapak SAJIDIN.
 
Sumber: pariwisata.garutkab.go.id

Lais

Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ?Laisan? Yang Sehari-Hari Di Panggil Pak Lais. Lais ini Sudah Dikenal Sejak Aman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet.

Sumber: pariwisata.garutkab.go.id

Rengkong

Asal-usul
Masyarakatnya sebagian besar beragama Islam dan pada umumnya menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Di daerah ini, tepatnya di Kampung Kandangsapi, Desa Cisarandi, Kecamatan Warungkondang ada sebuah kesenian tradisional yang bernama “rengkong”. Asal-usul kesenian ini bermula dari pemindahan padi huma (ladang) ke saung (lumbung padi). Masyarakat Jawa Barat pada umumnya, termasuk masyarakat Warungkondang (Cianjur), di masa lalu --sebelum mengenal bercocok tanam padi di sawah (sistem irigarasi)-- pada umumnya adalah sebagai peladang (ngahuma) yang berpindah-pindah. Padi ladang yang telah dituai tentunya tidak dibiarkan di ladang, tetapi mesti dibawa pulang. Mengingat bahwa jarak antara areal ladang dan pemukiman (rumah peladang) relatif jauh, maka diperlukan suatu alat untuk membawanya, yaitu pikulan yang terbuat dari bambu. Mereka menyebutnya sebagai “awi gombong”. Pikulan yang diberi beban padi kurang lebih 25 kilogram yang diikat dengan injuk kawung (tali ijuk) ini jika dibawa akan menimbulkan suara atau bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan batang pikulan itu sendiri. Dan, bunyi yang dihasilkan menyerupai suara burung rangkong (sejenis angsa). Oleh karena itu, ketika bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian disebut “rengkong”.

Konon, kesenian rengkong ini dikenal oleh masyarakat Warungkondang, khususnya masyarakat Kampung Sukaratu, Desa Cisarandi, sejak akhir abad ke-19. Adupan orang memperkenalkan dan atau mengembangkannya adalah Said (almarhum). Di kampung lain (Sukaratu) dikembangkan oleh seorang pengusaha genteng (1920--1967). Jadi, beban yang semula berupa padi diganti dengan genteng. Sedangkan, di Kampung Kandangsapi dikembangkan oleh Sopian sejak tahun 1967.

Peralatan
Peralatan yang diperlukan untuk mewujudkan kesenian yang disebut sebagai rengkong ini adalah peralatan yang menghasilkan bunyi rengkong itu sendiri dengan berbagai ukuran (ada yang besar dan kecil). Peralatan itu terdiri dan atau terbuat dari pikulan, tambang ijuk, padi, dan minyak tanah. Pikulan terbuat dari dari sebatang awi gombong (bambu gombong) yang tipis dengan panjang 2 atau 2,5 meter. Ujung yang satu dan lainnya terbuka (tidak tertutup oleh ruas bambu). Kemudian, kurang lebih 30 centimeter dari ujung-ujungnya dilubangi (menyerupai kentongan) sepanjang kurang lebih 38 centimeter. Tambang ijuk yang panjangnya 2 sampai 2,5 meter berfungsi sebagai pengikat padi padi yang akan digantungkan pada sebatang awi gombong yang berfungsi sebagai pikulan. Kemudian, padi yang beratnya 20—25 kilogram sebagai beban pikulan. Lebih dari itu dikhawatirkan pikulan akan patah. Dan, minyak tanah berfungsi sebagai pengesat gesekan antara tali dan pikulan, sehingga gesekan menghasilkan bunyi yang nyaring. Peralatan lainnya adalah dodog dan angkung buncis.

Pemain dan Busana
Jumlah pemain rengkong secara keseluruhan ada 14 orang dengan rincian: 2 orang sebagai pembawa rengkong besar; 3 orang sebagai pembawa rengkong kecil; 4 orang sebagai pemain dodog, yaitu dodog: tingrit, tongsong, brung-brung, dan gedeblag; dan pemain angklung buncis yang terdiri atas 5 orang. Sedangkan, busana atau pakaian yang dikenakan adalah pakaian tradisional yang berupa: kampret atau pangsi, ikat kepala, dan sarung.

Pementasan
Kesenian rengkong yang ada di Warungkondang ini biasanya hanya dipentaskan dalam rangka memeriahkan hari-hari besar agama dan atau nasional (17 Agustusan) dalam bentuk arak-arakan. Dalam sebuah pementasan biasanya pemain rengkong yang berjumlah 5 orang berada di barisan depan. Kemudian, diikuti oleh para pemain angklung buncis dan para pemain dodog. Namun demikian, adakalanya pementasan dikemas secara kolektif. Artinya, para pemain boleh bergerak kemana saja (bercampur jadi satu).

Fungsi
Ketika rengkong belum dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian, ia semata-mata hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari seseorang yang membawa beban (padi) dengan cara dipikul. Dalam hal ini gesekan antara tali pikulan dan pikulan dimanfaatkan sebagai irama pengiring, sehingga beban yang relatif berat tidak begitu dirasakan karena karena diiringi oleh bunyi-bunyian yang khas. Dan, ketika rengkong menjadi sebuah jenis kesenian fungsinya juga tidak jauh berbeda, yaitu sebagai hiburan.

Sebagai catatan, kesenian yang disebut sebagai rengkong ini tidak hanya ada di daerah Cianjunr semata, tetapi juga di daerah Sukabumi dan Banten. Bedanya, di kedua daerah tersebut rengkong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi ada fungsi lain yang melatarbelakanginya, yaitu ungkapan terima kasih kepada Dewi padi yang telah memberikan kesejahteraan berupa panen yang melimpah. Oleh karena itu, rengkong selalu ditampilkan dan kegiatan atau upacara penyimpanan padi ke lumbung.

Nilai Budaya
Kesenian adalah ekspresi jiwa manusia yang terwujud dalam keindahan. Oleh karena itu, kesenian apapun termasuk kesenian rengkong yang didukung dengan peralatan sederhana, mengandung nilai estetika (keindahan). Namun demikian, jika dikaji secara teliti kesenian yang disebut sebagai rengkong ini tidak hanya mengandung nilai estetika saja, tetapi ada nilai-nilai lainnya yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja keras dan kerjasama. Nilai kerja keras tercermin dalam membunyikan suara khas yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan. Ini artinya, padi dengan berat tertentu dipikul. Dan, ini tentunya memerlukan kerja keras. Kemudian, nilai kerja sama tercermin dalam pementasan. Dalam hal ini tanpa kerja sama yang baik mustahil pementasan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Malahan, ada nilai lainnya (religius) sebagaimana yang ditunjukkan oleh masyarakat Sukabumi dan Banten.
 
Sumber: pariwisata.garutkab.go.id

Rudat

Merupakan seni pertunjukan atraksi kekebalan tubuh. Selain di Pameungpeuk, berkembang juga secara aktif di Cikajang dan Singajaya, dan berkembang secara kurang aktif di Kecamatan Leles.

Sumber: pariwisata.garutkab.go.id

Selasa, 03 Juli 2012

PAKIS BANDUNG dengan Tokoh Masysrakat Garut

PHOTO BERSAMA
Rombongan PAKIS BANDUNG dengan Tokoh Masysrakat Garut
selepas acara silaturahmi PAKIS di Leles Garut

Pelukis - Lukman Basalmah

Lukman Basalmah lahir di Bandung, tanggal 18 Maret 1939. Belajar melukis langsung dari pelukis Oemar Basalmah (alm).

Exhibition Experience:
DEPORKERSEN Senirupawan 1992 in Bogor, West Java.
1996 Riau Arts Association.
Painters 1997-Riau Jambi.
Year 1998 Exhibition of Fine Arts Appreciation Riau.
Year 1999 National Arts Jamboree at Ancol.
Arts Exhibition 2001 Three Cities.
Painting Exhibition 2002 Large Family Pertamina.
Enchantment of the Year 2003 Millennium Exhibition at the Crowne Plaza Jakarta.
Enchantment of the Year 2004 Millennium Exhibition at Hotel Sahid Jaya Jakarta.

Alamat: Kp.Cicapar Tengah Ds.Leles Kec.Leles Kab.Garut Tel: 081311351337

KARYA 
Lukisan Diatas Kertas:
Jembatan Gantung

Jembatan Sempur
Info Lukisan Lainnya Hubungi :081311351337

Senin, 02 Juli 2012

Taman Satwa Cikembulan

Taman Satwa Cikembulan
Sebuah taman satwa satu-satunya di Jawa Barat yang mempunyaii koleksi cukup lengkap dari berbagai jenis burung, Reptil, primata, mamalia dan kucing besar. Tempat yang cocok untuk mengahbiskan waktu anda bersama keluarga dan mengenal lebih dekat dengan dunia binatang.
Di Taman Satwa Cikembulan menyediakan pula tempat makan dan souvenir.
Terletak di Kecamatan Kadungora, dari jalan raya Garut-Bandung masuk sekitar 2 Km.

Sumber: garutkab.go.id

Paraglaiding Gn. Haruman

Paraglaiding Gn. Haruman
Objek wisata dan daya tarik olah raga Paraglading Gunung Haruman tersebut berlokasi di Desa Haruman Sari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Status kepemilikan tanah yang digunakan untuk Paraglaiding adalah tanah masyarakat yang masih belum dikelola secara khusus. Gunung Haruman memiliki ketingian lebih kurang 1300 m diatas permukaan laut dan gunung ini bukan merupakan jenis gunung berapi. Konfigurasi umum lahan adalah bergunung dengan kemiringan lahan agak curam yang daya serap tanahnya baik, satabilitas tanah baik dan jenis material tanahnya secara umum pasir berbatu. Gunung Haruman ini merupakan sebuah objek yang digunakan untuk olah raga Paraglaiding bagi orang-orang pecinta terbang layang.    

Adapun landasan yang digunakan untuk terbang layang memiliki luas 40 x 15 m2 yang memiliki lapisan permukaan tanah rerumputan dengan kemiringan lahan yang landai. Untuk melakukan olah raga terbang layang, setiap pengunjung biasanya membawa peralatan sendiri, hal ini dikarenakan belum adanya pengelolaan secara khusus sehingga tidak tersedia peralatan yang dibutuhkan.
Untuk mencapai kawasan terbang layang Gunung Haruman kita dapat melalui jalan raya Garut ? Bandung yang melewati Kecamatan Kadungora. Dari Kecamatan Kadungora dapat menggunakan kendaraan pribadi atau ojeg menuju Desa Haruman Sari. Adapun jarak yang ditempuh dari Kecamatan Kadungora menuju Desa Haruman Sari berjarak lebih kurang 15 km dengan lebar jalan 2-4 m yang memiliki kualitas jalan kurang. Sedangkan untuk menuju landasan terbang layang dari Desa Haruman Sari berjarak 7-8 km, yang biasanya para pengunjung menggunakan mobil jeep atau sejenisnya, hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sangat rusak sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui oleh mobil selain jeep.

Kegiatan wisata yang bias dilakukan di kawasan ini adalah terbang layang, traking, menikmati pemandangan dan fotografi. Pengunjung yang dating ke Gunung Haruman berasal dari Jakarta, Jateng dam Jawa Timur. Serta pengunjung mancanegara berasal dari Singapura, Belanda, Korea dan Amerika yang hendak melakukan olah raga Paraglaiding.

Sumber: garutkab.go.id

Senin, 25 Juni 2012

PANGLIMA PAGUYUBAN KI SUNDA

ASEP SOBAR MULYANA
PANGLIMA
PAGUYUBAN KI SUNDA


32050105960001

No. Anggota : 32050105960001
Nama  : RIZKI
Jabatan :Anggota
Alamat : Kp. Babakan Cisaat Kadungora Garut

PAGUYUBAN KI SUNDA DISTRIK GARUT

32050809960001

No. Anggota : 32050809960001
Nama  : DEDE DAEROBI
Jabatan : Anggota
Alamat : Ds. Kandang Mukti Leles Garut


PAGUYUBAN KI SUNDA DISTRIK GARUT